Manusia Sang Penjilat  

Diposting oleh Ivan Istyawan

Hahahaahaha.............. tertawalah jika anda merasa bukan manusia sang penjilat ( Penjilat Type XIII_1)
HAHAHAHAHA..........tertawalah lebih keras jika anda mersa sang penjilat( Penjilat Type XIII_2)
Hahahahohohohihihihih.......tertawalah lebih keras disertai isak tangis diiringih istghfar jika anda merasa penjilat dan ingin taubat.( Penjilat XIII_Type 3)
Sebab saya merasa terkadang kebanyakan manusia jaman sekarang ini yang katanya Asmuni bin Kabul yang Modern n hidup zaman globalisasi : "lebih banyak orang dengan tipe penjilat no 1. yang nga merasa penjilat walau mereka adalah penjilat ulung. Terlepas dari maksud baik dan atau buruk dari hasil jilatannya itu namun satu hal yang saya yakini hingga saat saya menulis bahan blog ini (sekaligus Proklamasi prinsip hidup, hehehe gaya bleh dong) " bahwa menjilat itu adalah kebiasaan yang buruk merugikan kita sendiri n komunitas tempat kita berada".
Disambung ntar ya kos ada gangguan

Saatnya Indonesia Bangkit  

Diposting oleh Ivan Istyawan


Tulung Agung – IRM. Dimotori oleh PD IRM Tulung Agung AMM Tulung Agung memiliki cara sendiri untuk 100 tahun hari kebangkitan nasional Bangsa Indonesia. Momen ini diefektifkan dengan Tablig Akbar Kebangsaan, senin (26/5) . “ acara yang dihadiri dua tokoh nasional yaitu Prof. Dr H. M. Amin Rais dan Prof. Dr. Syafig A Mughni khusus kami gelar dalam rangka memberi pencerahan pencerahan religiusitas bernuansa intelektual pada masyarakat Tulung Agung dan Keluarga Besar Muhammadiyah Tulung Agung pada khusnya” Ujar Irmawan Fauzi-ketua Pelaksana

Kegiatan dengan 4000 jama’ah ini diproyeksikan sebagai agenda rutin. Turut hadir Heru selaku Bupati Tulung Agung, Kapolres Tulung Agung, jajaran Muspida Tulung Agung serta tokoh masyarakat dan berbagai elemen pemuda. “Kegiatan Tabligh Akbar ini sangat penting mengingat bangsa kita masih harus berbenah. Saya selaku Bupati Tulung Agung Mendukung sepenuhnya kegiatan mulia ini dan saya yakin masyarakat akan tercerahkan mengingat dua tokoh nasional yang akan berbicara nanti” Ujar Heru dalam sambutannya.

Syafig dalam sambutannya sebagai Ketua Umum Pimpinan Wilayah muhammadiyah (PWM) Jawa Timur mengingatkan bahwa segenap elemen Muhammadiyah harus selalu menjadi bagian dari solusi bangsa. “Kebangkitan nasional ini harus menjadi momentum Muhammadiyah untuk terus meningkatkan kwalitas serta kwantitas amaliyah kita pada Indonesia tercinta”. Ungkap ayahanda yang menjabat Guru Besar IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Amin dalam Tabligh Akbar yang bertema Menuju Kepemimpinan Amanah sebagai Modal Pencerahan Bangsa berbicara tentang keterpurukan Indonesia sebagai akibat mental buruh.“ Kebangkitan kita ini sesungguhnya hanya akan bersifat seremonial, ketika kita masih memiliki mental “ budak ”, sebab dari mental itulah kita memiliki berbagai problem tak berkesudahan. Kita harus mampu menjadi tuan di rumah sendiri, sudah saatnya kita menjadi bangsa bermartabat dan berdaulat” ujar penasehat PP Muhammadiyah tersebut.

Ia menegaskan bahwa perubahan sikap mental bangsa ini harus dipelopori oleh rakyat Indonesia dan harus terus digelorakan. Pria yang didaulat sebagai Majelis Wali Amanah (MWA) Universita Gadjah Mada ini menyinggung berbagai kebijakan pemerintah yang tidak pro mustad affin. “ Kenaikan BBM yang diambil oleh pemerintah ini sesungguhnya akan menimbulkan “ bencana” sosial dan ekonomi bagi kita. Selain itu juga hal ini adalah Ironi bagi bangsa kaya Miyak seperti Indonesia” Ungkapnya. menurutnya kemiskinan, keterpurukan ekonomi dan berbagai problem kronis Indonesia adalah buah pengelolaan ekonomi Indonesia yang salah urus, dan berpihak pada kepentingan asing, yang mencerminkan mental “pembantu”.

“Jika kita ingin bangkit dalam arti yang sesungguhnya maka kita harus berani merubah mental bangsa agar mampu berkompetisi, siapkan generasi muda kita dan ucapkan selamat tinggal utuk para pemimpin bermental buruh serta yang paling penting kedepan jangan biarkan berkusa lagi“ Pesannya

“keberanian dalam ber amar ma’ruf nahi munkar adalah konsekuensi logis dari keimanan kita” Pungkasnya penuh semangat

Sidrom Bingung Ketemu Obat  

Diposting oleh Ivan Istyawan

YANG KITA SIA-SIAKAN

Perbuatan yang kita lakukan
sia-sia karena tak disertai rasa ikhlas
Perjuangan yang kita lakukan
sia-sia karena tak ada tujuan yang jelas
Pengorbanan yang kita lakukan
sia-sia karena mengharapkan pujian
Marah yang kita lampiaskan
sia-sia karena dilandasi emosi bukan rasio
Pelajaran dan peringatan yang kita dengar atau baca
sia-sia karena hanya melintas dipikiran
Taken From :
Acy's blog

Beberapa hari ini jujur aku bingung. Bingung atas segala pikiran, uneg-uneg dan segala perasaan yang tidak terkonstruksi dengan baik. Kebingunagn ini semakin bertambah ketika hati ini takmampu menghayati dan memberi makna pada arti hidup yang selama ini kujalani, semua sisi hidupku terasa lenyap dan tak memiliki sendi-sendi yang kuat tuk mernyokong segala mimpi besarku tuk membela para mustad'affin yang terpinggirkan.
secara tak sengaja aku bertemu seorang yang menurutku penuh semangat dan mampu menuklarkan semangatnya padaku, "mas Ulul" aku memanggilnya. Seorang kader IRM Jawa Timur ini memberiku suntikan pencerahan atas cita-cita dan mimpi-mimpi besar yang mulai kutanggalka. Mantan ketua PD IRM Jember ini memberi sebuah tantangan atau apapaun namanya yang membuatku sadar bahwa " hidupku mulai tak terarah dan sia-sia" Kurang lebih hampir sama dan terwakilkan dalam bait puisi pada blognya
Acy (Terimaksih Acy, puisimu membangunkan ku dari mimpi dan tidur panjangku). Cerita dan tulisan Lely dalam Blognya juga telah mengingatkan diriku atas HAK anak jalanan yang terkadang kulupakan akhir akhir ini.
Mas ulul yang kuliah di Unmuh Gresik, secara tak sengaja kami bertemu di salah satu (bukan salah dua) warnet di Gresik / my Truly Home. Setelah ngenet ria akupun tidur di bilik kamar kosannya. Semalaman aku ngobrol dengannya tentang arah hidupku yang semakin tak jelas. kataku dalam hati " Sepertinya aku terkena sebuah penyakit yang dimkampanyekan oleh Marx yaitu Kesadaran Palsu (
false Consciousness)" yaitu sebuah penyakit non medis yang lansung menyerang pusat kesadaran kritis manusia yang menyebabkan sang penderiyta memiliki kesadaran palsu atas dirinya dan realitas sosial.
Aku menginjakkan kaki kiri ku memasuki kos kamar (eh salah maksudnya, kamar kos) kang ulul jam 12 malam dan baru tidur jam 3 pagi. Keyakinan ku atas peyakit
false Consciousnes ssemakin mengental. " Penyakit ini benar-benar telah menyerangku ", kataku dalam hati. Keinginan untuk mendobrak kemampanan sosial yang terinspirasi dari berbagai tulisan "kang Eko Prasetyo seakan telah lenyap begitu saja.

Namun Tidak untuk kamis pagi 16 Jumadil Awal, aku akan kemabali tuk mengikrarkan diri, menafkahkan dan mewakafkan diriku utuk kepentingan pembelaan kaum mustad'affin.

untuk mu wahai Mustadaffin
" Aku ingin bergumul dalam getirnya hidupmu, jangankan menikmati nikmatnya hari ini bahkan untuk makan esok hari engkau masih harus berjuang, beradu dengan maut tuk sesuap nasi, beradu dengan kejamnya dunia tuk sekali hembusan nafas. Jika aku kaya ingin kurangkul kalian, jika aku merdeka ingin kusayang kalian, jika aku tertindas ingin kuberjuang dengan kalian"

Kecewa Ku pada mu  

Diposting oleh Ivan Istyawan

Setiap kali mendengar ceramah para agamawan atau paling tidak pada Khutbah jum'at, penulis pasti mendengar para juru da'wah yang menyikapai keterpurukan Indonesia sebagai ujian dan umat diminta sabar atas ujian tersebut. Hampir selalau hati ini berontak saat itu juga dan ingin berkata “ aku tak setuju padamu, wahai agamawan “.

Terasa sekali bahwa dunia ini sangat tidak adil. Ketertindasan - antar strata sosial – terus melanggeng jurang antara si Miskin dan kaum borjuis terus merekah memerah dan meradanp panjang. Beberapa Ulama Kemudian bersabda “ Kesusahan, kemiskinan dan kelaparan adalah ujian dari Tuhan yang harus disikapi dengan penuh Kesabaran dan keikhlasan sehingga berbuah kemenangan”. Marxian dalam beberapa diskusi mengatakan hal yang lain, bagi mereka yang haus dengan keadilan sosial ini mengatakan bahwa “ Kesusahan, kemiskinan dan kelaparan tidak murni sebagai ujian Tuhan namun lebih condong sebagai manifestasi ketidakadilan dalam tubuh struktur sosial yang sengaja dipelihara oleh elit-elit sosial demi kepentingannya seendir, maka atas nama keadilan mari lawan bersama struktur sosial yang timpang yang memanfaatkan agama dalam menundukkan Nalar perjuangan menuju keadilan sosial'”. Hati inipun terkadang muak dengan semua pertentangan antara dua kubu ini. Yang dalam berbagai klaimnya menganggap kelompok mereka yang paling benar dan menafikkan kelompok yang lain.
Pengalamanku
Setiap kali mendengar ceramah para agamawan atau paling tidak pada Khutbah jum'at, penulis pasti mendengar para juru da'wah yang menyikapai keterpurukan Indonesia sebagai ujian dan umat diminta sabar atas ujian tersebut. Hampir selalau hati ini berontak saat itu juga dan ingin berkata “ aku tak setuju padamu, wahai agamawan “.
Bagaimana tidak, mereka para ulama (walau tidak seluruhnya) pasti akan menyeruh umat pada kesabaran tanpa BERUSAHA MENYADARKAN UMAT ATAS REALITA BAHWA KITA SEDANG DITINDAS. Apakah ulama yang seperti itu salah ? Ya Jawabku lantang, sebab seharusnya Nalar Kritis umat islam yang sudah lama tertidur mulai hari ini dibangkitkan. Banyak kisah-kisah nabi dalam melawan kedzaliman penguasa pada zamannya bahkan banyak ayat yang menyeru pada amar ma'ruf nahi munkar sunguh melarang kita diam dalam kedzaliman. Namun sayang nalar kritis Umat justru ditidurkan jika tak mau dibilang dikebiri, dengan ayat-ayat al quran tentang kesabaran dan kepasrahan.
“ mereka (sebagian ulama,pen) hanya mampu berpangku tangan seraya menjual ayat kesabaran ketika melihat “ teatrikal dan sandiwara “ kesengsaaran umat yang disebabkan sistem sosial yang timpang” Ujarku dalam hati terdalam.
SADARLAH Kawan ! Hari ini neo Liberalisme dan Neo Kolonialisme telah sangat mengakar dalam struktur sosial kita. Dalam wajah kapitalisme mereka merenggut hak ekonomi asasi kta untuk hidup makmur, mereka merenggut kebahagian hidup kita. Eko Prasetyo melalui Asslamu'alaikun Islam Agama Perlawanan berkata, kurang lebih demikian “ Kemiskinan sengaja dipelihara dan Islam sebagai entitas agama yang suci telah digunakan menjadi obat atas keresahan umat agar tidak bergejolak dan menimbulkan konflik sosial ”.
lalu apakah benar senista itu sebagian pemuka agama kita ? Fakta yang kan menjawab dan mari melakukan observasi bersama. Kembalikan Islam pada Fungsinya “ sebagai agama yang penuh nilai kemanusian dan anti pada penjajahan dalam wajah apapun mereka hadir ”.
Semoga tulisan ini mampu menghadirkan Ruang diskusi (bersambung)

Muhammadiyah Versi A.dahlan Mulai Terlupakan  

Diposting oleh Ivan Istyawan

Oleh: Maman A. Majid Binfas
Sejarah berdirinya suatu orga­nisasi tidak dapat di­pisah­­kan dari gaga­san dan piki­ran pendirinya. Sebab orang-orang yang kemu­dian bergabung menjadi anggota secara sadar telah menyepa­kati dasar dan tujuan organi­sasi tersebut yang pada hakikatnya merupakan perwu­ju­dan dari gagasan para pendirinya. PSII tidak mungkin dipisahkan dengan HOS Cokroaminoto. NU tidak mungkin dipisahkan dengan Hasyim Asya’ari. Demi­kian juga Muhammadiyah tidak mungkin dipisahkan dari Ahmad Dahlan. Dengan demi­kian gagasan dan pikiran yang muncul kemudian tidak mung­kin dipisahkan dari pikiran dan gagasan awal (para) pendiri­nya, (Moh. Djasman Al-Kindi; sala seorang pencetus berdiri­nya Ikatan Mahasiswa Muham­­ma­diyah dan menjadi ketua umum pertama DPP IMM).


Gagasan Ahmad Dahlan yang terpilih adalah bagai­mana dapatnya mengamalkan ayat-ayat al-Qur`an. Dengan demikian Muham­madiyah sebagai organisasi senantiasa diikhtiarkan untuk menjadi tempat untuk mengkaji Al-Qur`an sekaligus menjadi tempat bermusyawarah untuk mengamal­kannya. Oleh kare­na­nya Muhammadiyah tidak mungkin terpisah dari tiga prinsip yakni ; Pengkajian Al-Qur`an, Musyawarah dan amal, yang saat ini hampir “mati” ; antara “ada dan tiada” Dengan demikian warga Muhammadiyah masih perlu mempelajari gagasan dan pikiran KH. Ahmad Dahlan. Terutama yang berkaitan dengan Ibadah Sholat tepat waktu dan pengamalan ayat-ayat Al-Qur`an, hal itu tidak dimaksud untuk mengikuti jejaknya secara dokmatik tetapi untuk memberi makna kreatif guna penerapannya pada masa kini. Sebab gagasan dan pikiran KH. Ahmad Dahlan jelas merupakan gagasan dan pikiran kretif dan inovatif. Dalam tulisan yang berjudul Al-Islam dan Al-Qur`an yang sampai sekarang diketahui merupakan satu-satunya tulisan Ahmad Dahlan yang dipublikasikan. Dinyatakan (pada waktu itu) adanya kekalutan di kalangan umat: mereka pecah belah dan tidak pernah bersatu. Dari tulisan KH. Ahmad Dahlan dan pengung­kapan Haji Hajid tentang KH. Ahmad Dahlan dalam berorganisasi berpe­gang pada prinsip: a. Senantiasa menghu­bung­kan diri (memper­tanggung­jawabkan tindakannya) kepada Allah. b. Perlu adanya ikatan persa­u­daraan berdasar kebena­ran (sejati). c. perlunya setiap orang, ter­utama para pemimpin terus-menerus menambah ilmu, sehingga dapat meng­ambil keputusan yang bijaksana. d. Ilmu harus diamalkan. e. Perlunya dilakukan peru­bahan apabila memang diperlukan untuk menuju keadaan yang lebih baik. f. Mengorbankan harta sen­diri untuk kebenaran. Ikhlas dan bersih. Sangat ironis manakalah warga Muham­madiyah meng­abaikan sama sekali gagasan dan pikiran pendiri organisasi­nya ini. Seorang tokoh yang gagasannya telah menghasil­kan salah satu organisasi terbesar di Indo­nesia dan seka­rang banyak kalangan menik­mati­­nya walau­pun dalam berbagai gaya plus bermacam-macam ragam kepentingan (dalam tanda kutip!), baik dalam amal usaha maupun dalam persya­ri­katan Muhammadiyah. Gagasan pikiran cemerlang tersebut, jelas tidak layak untuk diabaikan. Gagasan dan piki­ran sema­cam itu jelas mengan­dung banyak hal yang perlu dipelajari terutama bagi warga Muham­madiyah mana­kala tidak ada maksud untuk menyim­pang dari gagasan dan tujuan berdiri­nya organisasi tersebut. Perlu diketahui, nama-nama seperti Ibnu Taimiyah, Jama­ludin al Afghani dan Muham­mad Abduh, di kala­ngan umat Islam dikenal sebagai ulama penggerak pemba­haruan. Gagasan dan pikiran Ahmad Dahlan dikenal juga sebagai gagasan yang dipengaruhi oleh ulama-ulama tersebut. Oleh karena itu Ahmad Dahlan oleh banyak pakar sering dinyatakan sebagai tokoh pembaharu dan Muham­madiyah dinyatakan sebagai gerakan pemba­haruan. Akan tetapi perlu dicatat bahwa gerakan pemba­haruan yang dilakukan ketiga tokoh tersebut di laksanakan di negara -negara di mana institusi keaga­maan dan fasilitasnya sudah tersedia dengan lengkap. Bahkan Muhammad Abduh sendiri adalah salah seorang ulama di Mesir yang mem­punyai kedudukan ter­hormat di Univer­sitas al Azhar dan Darul Ulum yang merupa­kan pergu­ruan Tinggi yang sangat berwibawa dalam keilmuan agama Islam, tidak saja di negerinya sendiri Mesir, tetapi juga seluruh dunia Islam. Dengan demikian gagasan pemabaharuan Muham­mad Abduh didukung oleh dua Universitas besar tersebut, sehingga cenderung merupa­kan gagasan intelektual. Sedangkan gagasan pemba­haruan yang dilakukan oleh Ahmad Dahlan sama sekali tidak memperoleh dukungan dari lembaga pendidikan apapun. Sebab pada waktu itu belum ada sebuah sekolah pendidikan dasar sekalipun di kalangan umat Islam, sehingga dapat difahami kalau gerakan pembaharuan Ahmad Dahlan bersifat sangat pratikal, ialah mengembangkan gagasan dan pikiran sekaligus mengu­sahakan fasilitas pendukung untuk melaksa­nakan gagasan dan pikiranya itu. Haji Hajid menuliskan pe­nga­la­man­nya sebagai murid Ahmad Dahlan dalam risalah singkat berjudul falsafah Ajaran KH. Ahmad Dahlan, yakni tujuh poin yang dapat dipetik; Pertama; Kerapkali KH. Ahmad Dahlan mengung­kapkan perkataan ulama (al-Ghazali pen) yang menyatakan bahwa manusia itu semuanya mati (mati perasaannya) kecuali para ulama yaitu orang-orang yang berilmu. Dan ulama itu senantiasa dalam kebi­ngungan, kecuali mereka yang beramal. Dan yang beramal pun semuanya dalam kekha­wa­tiran kecuali mereka yang ikhlas dan bersih. Kedua; Kebanyakan mere­ka di antara manusia ber­watak angkuh dan takabur mereka mengambil keputusan sendiri-sendiri. KH. Ahmad Dahlan heran mengapa pemim­pin agama dan yang tidak ber­agama selalu hanya berang­gap, mengambil keputu­san sendiri tanpa mengada­kan perte­muan antara mereka, tidak mau bertukar pikiran memper­bincangkan mana yang benar dan mana yang salah?. Hanya anggapan-anggapan saja, disepakatkan dengan istrinya, disepakatkan dengan murid­nya, disepakat­kan dengan teman-temannya sendiri. Tentu saja akan dibenarkan. Tetapi marilah mengadakan permu­sya­waratan dengan golongan lain di luar golongan masing - masing untuk membicarakan manakah sesungguhnya yang benar?. Dan manakah sesung­guhnya yang salah? Ketiga; Manusia kalau mengerjakan pekerja­an apa­pun, sekali, dua kali, berulang-ulang, maka kemudian jadi biasa. Kalau sudah menjadi kesenangan yang dicintai. Kebiasaan yang dicintai itu sukar untuk dirubah. Sudah menjadi tabiat bahwa kebanya­kan manusia membela adat kebiasaan yang telah diterima, baik dari sudut atau i’tiqat, perasaan kehendak maupun amal perbuatan. Kalau ada yang akan merubah sanggup membela dengan mengor­ban­kan jiwa raga. Demikian itu karena anggapan­nya bahwa apa yang dimiliki adalah benar. Keempat; Manusia perlu digolongkan menjadi satu dalam kebenaran, harus bersama-sama meperguna­kan akal pikirannya untuk memikir bagai­mana sebenar­nya haki­kat dan tujuan manusia hidup di dunia. Manusia harus mem­per­­gunakan pikirannya untuk mengoreksi soal itikad dan kepercayaan­nya, tujuan hidup dan tingkah lakunya, mencari kebenaran yang sejati. Kelima; Setelah manusia mendengarkan pelajaran-pelajaran fatwa yang ber­macam-macam membaca bebe­rapa tumpuk buku dan sudah memper­bincangkan, memikir-mikir, menimbang, membanding-banding kesana kemari, barulah mereka dapat mem­­peroleh keputusan, mem­­per­­oleh barang benar yang sesungguh­nya. Dengan akal pikirannya sendiri dapat mengetahui dan menetapkan, inilah perbuatan yang benar. Sekarang kebiasaan manusia tidak berani memegang teguh pendirian dan perbuatan yang benar karena khawatir, kalau barang yang benar, akan terpisah dan apa-apa yang sudah menjadi kesenangan­nya, khawatir akan terpisah dengan teman-temannya. Pendek kata banyaknya kekha­watiran itu yang akhirnya tidak berani mengerjakan barang yang benar, kemudian hidup­nya seperti makhluk yang tak berakal, hidup asal hidup, tidak menepati kebenaran. Keenam; Kebanyakan para pemimpin belum berani mengor­­bankan harta benda dan jiwanya untuk berusaha tergolong­nya umat manusia dalam kebenaran. Malah pemimpin-pemimpin itu biasa­nya hanya meper­mainkan, memperalat manusia yang bodoh-bodoh dan lemah. Ketujuh: Ilmu terdiri atas pengetahuan teori dan amal (praktek), Dalam mempelajari kedua ilmu itu supaya dengan cara bertingkat. Kalau setingkat saja belum bisa mengerjakan tidak perlu ditambah. Pada poin ini, pengurus Muham­madiyah dan angkatan mudanya saat ini, baik pada tingkat pusat maupun pada tingkat wilayah dalam segi teori berlogika tidak diragukan lagi. Namun dalam hal praktik­nya masih perlu lagi diasah/dipertanyakan?, Ibadah Sholat tepat waktu dan kajian al-Qur`an sebagai piranti utama perjua­ngan KH. Ahmad Dahlan, mere­ka logikakan sebagai kebebasan pribadi, lalu shalat subuh rutin jam tuju pagi tidak menjadi soal, belum lagi tata cara shalatnya ber­aneka ragam, hingga keputu­san tarjih dibiarkan bercerita sendiri logika pribadi tanpa dasar itu menjadi ukuran. Bahkan Peng­kaderan sebagai nadi organi­sasi perge­rakan sudah diting­kat­kan pada “logika tinggi plus misi haus kekuasaan” hingga rana nurani, etik, Akhlak, sopan-santun menjadi misi persyarikan tak dihiraukan lagi, sebab libera­lisasi itulah men­jadi dasar hak asasi. Dan proyek politik, proyek suksesi menjadi kenda­raan bisnisnya tanpa mengenal waktu ter­penting proposal laku dan kolusi uang saku tersedia! Kader ataupun bukan?.. persetan! Astagfirullah. Dari tujuh butir pikiran brilian serta dari maka­lah KH.Ahmad Dahlan di atas, lalu kita meng­amati secara seksama aktifitas pengurus Muham­madiyah dan angkatan muda­nya saat ini. Apakah masih ber­cahaya sesuai dengan agenda dasar alam pikiran KH. Ahmad Dahlan?, ataukah justru pikiran serta gagasan KH. Ahmad Dahlan sudah jauh dari akar dasarnya - dilecehkan, atau­kah sudah mati dan padam disebabkan oleh serbuan dari berbagai kepen­tingan, yang menjadi­kan organi­sasi serta amal usaha Muham­madiyah sebagai ‘batu loncatan’ untuk mencapai kepentingan dan kepuasan pribadi atau kelom­­­pok. Bahkan mungkin seba­gian atau kebanyakan, menja­dikan Muhammadiyah bagai­kan lembaga “perseku­tuan berhistoris Hantu” semen­tara gagasan dan pikiran pendiri­nya hanya legenda dan atau sebagai dongeng belaka? Seperti terselubungnya kriteria, yang bisa menjadi presi­den Indonesia, kalau bukan orang jawa, jangan ber­mimpi jadi orang nomor satu di Indonesia. Mungkin begitu juga terjadi pada Muham­madiyah dan angkatan muda­nya beserta gerbongnya, bila dia, bukan orang kelahiran asli daerah atau wilayah tersebut, maka dia tidak bisa menjadi pucuk pada persyari­katan atau amal usaha Muham­madiyah. Lalu apakah demi­kian, tujuan awal niat tulus suci - hati bening KH. Ahmad Dahlan, tempo dulu? Atau didirikannya dengan doa syahdu yang hanya memohon magfirah ridho Ilahi semata. Muham­madiyah bukanlah hantu. Gagasan dan pikiran KH. Ahmad Dahlan bukanlah legen­da dan dongeng belaka! Akan tetapi nilai dan makna ketu­lusan hakiki yang nyata! Semoga terenungkan dalam sanubari..! Dan sesudah KH.Ahmad Dahlan apakah akan ada Muham­madiyah versi baru ? Cerdas tapi tak cerdas..! ber­muka-muka tapi tak bermuka, bermoral tapi tidak berakhlak.?

Surat Kepada Presiden RI  

Diposting oleh Ivan Istyawan

Wahai bapak SBY. Hari ini kita berduka, karena memimpikan kebangkitan negeri ini, tetapi tidak berani memimpikan kebangkitan pendidikan kita. Saya pesimis, mana mungkin pendidikan kita yang selama ini sangat eksklusif, penuh dengan hegemoni berbagai kepentingan dan riskan dengan berbagai permasalahan bangsa. Bahkan, pendidikan kita tidak memiliki kiblat yang jelas.

Mungkin sebagaian orang akan berapologi bahwa memang kita tidak berkiblat. Namun, sungguh saya yakin ketika pendidikan kita memiliki perwajahan yang jelas dengan kiblat yang jelas, entah itu pendidikan inklusif, pendidikan progresif atau pendidikan kritis, maka kita mungkin dapat melakukan evaluasi yang lebih jelas. Misalnya, permasalahan UAN, adalah bentuk ketidakjelasan kita, dan bentuk ketidaktuntasan kita dalam wilayah penentuan tolok ukur. Padahal sudah jelas bahwa kecerdasan siswa tidak bisa dimaterialkan dalam bentuk angka yang sangat hegemonif. Ujung dari problem UAN itu kita selalu mempunyai out put yang sangat mekanistik dan robotik, karena persiapan warga belajar sangat mekanistik dan robotik.

Atas nama Kaum Pemerhati Pendidikan Progresif Transformatif (KP3T), mari rubah iklim pendidikan kita, mimpikan dahulu kebangkitan pendidikan kita sebelum bermimpi tentang kebangkitan negeri ini.

Kekerasan Atas Nama Agama  

Diposting oleh Ivan Istyawan


Oleh : Ahmad Syafii Maarif
Tindakan kekerasan, brutalitas, bahkan peperangan atas nama agama bukan barang baru dalam sejarah peradaban (kebiadaban) manusia. Pelaku tindakan ini merasa paling beriman di muka bumi. Karena menganggap diri sebagai makhluk agung di antara manusia, mereka mengangkat dirinya sebagai orang yang paling dekat dengan Tuhan.
Karena itu, mereka berhak memonopoli kebenaran. Seakan-akan mereka telah menjadi wakil Tuhan yang sah untuk mengatur dunia ini berdasarkan tafsiran monolitik mereka terhadap teks suci. Perkara pihak lain akan mati, terancam, binasa, dan babak belur akibat perbuatan anarkis mereka, sama sekali tidak menjadi pertimbangan. Inilah jenis manusia yang punya hobi "membuat kebinasaan di muka bumi", tetapi merasa telah berbuat baik.


Seorang Presiden, George W. Bush, penganut Kristen puritan fundamentalis telah memakai agama untuk menghancurkan bangsa lain yang tak berdaya dengan seribu dalih. Perkembangan terakhir menunjukkan semakin banyak tentara Amerika yang bunuh diri karena diimpit suasana putus asa: perang di Afghanistan dan Irak tidak kunjung usai. Mereka memilih mati berkalang tanah daripada hidup becermin mayat. Itu belum lagi yang menjadi gila, rusak ingatan akibat perang yang dipaksakan. Bush dan para pendukungnya yang haus darah tidak hirau dengan semuanya ini.
Sementara itu, di kalangan segelintir Muslim, termasuk di Indonesia yang berkoar anti-Barat, atas nama agama telah membencanai tempat-tempat ibadah, perkantoran, bahkan rumah-rumah mereka yang berbeda agama atau mereka yang dianggap sesat dengan menggunakan fatwa MUI. Para pengrusak ini dari sudut pandang sistem nilai tidak banyak berbeda dengan Bush yang secara lahiriah ditentang oleh mereka. Di sinilah ironi itu berlaku. Dalam retorika politik, mereka seperti bermusuhan. Tetapi, dalam kelakuan, mereka bersahabat. Bedanya, Bush merusak dalam skala besar dengan persenjataan modern, sedangkan mereka dalam skala kecil, seperti dengan memakai pentungan, golok, linggis, dan lain-lain. Sementara itu, aparat seperti tidak mampu menghalangi mereka.
Dengan mengatakan demikian, anda jangan salah paham bila dikaitkan dengan paham Ahmadiyah yang jadi berita besar sekarang ini. Secara teologis, saya menolak 200 persen pendapat yang mengatakan bahwa ada nabi pasca-Muhammad, sekalipun katanya tidak membawa syariat. Jika memang begitu, mengapa harus dihadirkan nabi baru? Di sinilah saya gagal memahami kehadiran aliran Ahmadiyah. Mengapa tidak kembali saja kepada ajaran Islam semula. Adapun jika Ghulam Ahmad dipercayai sebagai pembaru, mungkin masalahnya tidak menjadi ruwet, sekalipun sebagian besar umat Islam tidak mengakuinya.
Sepanjang sejarah Islam selama sekian abad, umat yang percaya kepada kemunculan pembaru bukan barang baru, tetapi hanya sebagian tokoh yang memercayainya. Dengan pernyataan ini, posisi saya tentang Ahmadiyah sudah sangat gamblang. Memang dalam beberapa hadis dikatakan tentang akan turunnya nabi Isa sebelum kiamat. Dan katanya, Ghulam Ahmadlah orangnya.
Saya sungguh berharap agar hadis-hadis serupa ini diteliti kembali, sebab implikasinya sangat dahsyat. Maksud saya, jika Isa masih harus turun kembali, berarti misi Muhammad gagal. Saya tidak percaya bahwa nabi Isa masih hidup, karena dia adalah manusia biasa yang atas dirinya berlaku sepenuhnya hukum alam: lahir, dewasa, tua, dan mati. Tetapi, Alquran membantah bahwa kematian nabi Isa karena disalib. Masalah ini biarlah tidak diperdebatkan panjang-panjang, sebab saudara-saudara Kristen kita memercayai bahwa Isa mati di kayu salib. Kita tidak perlu memasuki teologi mereka.
Kembali kepada masalah kekerasan atas nama agama. Saya akan membela sepenuhnya posisi Ahmadiyah jika mereka dizalimi, hak milik mereka dirampok, dan keluarga mereka diusir. Ini perbuatan biadab karena pengikut Ahmadiyah itu punya hak yang sama dengan warga negara Indonesia yang lain menurut konstitusi Indonesia. Jika mereka dizalimi, aparat dan kita semua wajib melindungi mereka. Bahkan, seorang warga negara Indonesia penganut ateisme, tetapi patuh kepada UUD, tidak ada hak kita untuk membinasakan mereka. Kita bisa bergaul dengan mereka dalam masalah-masalah keduniaan. Mereka juga punya hak hidup dengan ateismenya.
Di sinilah pentingnya kita memahami secara jujur diktum Alquran dalam Albaqarah ayat 256, "Tidak ada paksaan dalam agama." Jika Tuhan tidak mau memaksa hambanya untuk memeluk atau tidak memeluk agama, mengapa kita manusia mau main paksa atas nama Tuhan? Sikap semacam inilah yang bikin kacau masyarakat. Oleh karena itu, Alquran jangan dibawa-bawa untuk menindas orang lain. Kekerasan atas nama agama adalah pengkhianatan yang nyata terhadap hakikat agama itu sendiri.
Sumber :