Awas Virus “Budaya Pop”!  

Diposting oleh Ivan Istyawan



Oleh Ridho Al-Hamdi

Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Budaya, menurut John Storey dalam bukunya yang berjudul Teori Budaya dan Budaya Pop, bisa dipahami sebagai kebiasaan berupa praktik-praktik dalam keseharian, misal liburan ke pantai, perayaan ulang tahun, tujuh belas agustusan, dan aktivitas lainnya. Kata “pop” singkatan dari “popular” yang arti sederhadanya adalah disukai oleh banyak orang. Karena itu, budaya pop bisa bermakna budaya yang disukai oleh banyak orang dan menyenangkan.

Kita bisa melihat budaya pop pada laku kerasnya penjualan buku Harry Potter atau larisnya film Titanic dan The Lord of The Ring. Jika di Indonesia mungkin best seller-nya buku Laskar Pelangi dan boomingnya film Ada Apa dengan Cinta dan Heart. Dalam dunia musik, Dewa, Padi, dan Sheila on 7 pernah mewarnai dunia band atau akhir-akhir ini terjadi juga pada Ungu, Letto, Radja, Peter Pan, dan lain sebagainya. Dunia-dunia seperti itulah dunia yang disukai oleh anak-anak pelajar.

Dengan mengacu pada contoh-contoh di atas, budaya pop bisa juga berarti budaya tinggi tertutama pada kasus penjualan buku, rekaman, dan juga rating audiens televisi yang dinyatakan sebagai budaya pop.

Istilah lain dalam budaya pop adalah budaya massa, yaitu budaya yang diproduksi oleh massa untuk konsumsi massa. Budaya massa adalah budaya yang dianggap sebagai dunia impian secara kolektif, misalnya hiking ke pegunungan, liburan ke pantai, dan merayakan valentine day bersama pacar. Budaya seperti ini seolah memberi impian bagi anak-anak muda akan dunia yang serba enak dan menyenangkan.

Aku Bergaya, Maka Aku Ada!

Urusan bergaya sudah mulai menjadi pusat perhatian yang amat serius dari kalangan anak muda. Bagi Idi Subandi Ibrahim, pakar cultural studies, pertumbuhan gaya-bergaya tidak bisa dilepaskan dari arus globalisasi ekonomi dan kapitalisme konsumsi yang ditandai dengan menjamurnya pusat-pusat perbelanjaan semacam Shopping Mall, industri mode atau fashion, industri kecantikan, industri kuliner, industri gosip, apartemen, kawasan huni mewah, real estate, gencarnya iklan barang-barang supermewah, liburan wisata ke luar negeri, serta berdirinya sekolah-sekolah mahal dengan label serba “plus”.

Anak-anak muda sekarang gandrung dengan merk asing, makanan serba instan (fast-food), telepon genggam (HP), dan tentunya serbuan gaya hidup lewat industri iklan dan televisi yang sudah sampai ke ruang-ruang kita yang paling pribadi, dan bahkan ke relung-relung jiwa kita yang paling dalam.

Belum lagi serbuan majalah-majalah mode dan gaya hidup dalam edisi bahasa Indonesia ke kalangan anak muda (khususnya ABG) baik pria maupun wanita yang berselera kelas menengah ke atas. Majalah-majalah itu menawarkan cita rasa dan gaya yang tinggi serta terlihat jelas dari kemasan, rubrik, kolom, dan slogan yang ditawarkannya, seperti “Be Smarter, Richer, & Sexier” atau “Get Fun!”.

Beragam majalah dengan kemasan yang tak kalah luks dengan media lainnya hadir di tengah anak muda yang sedang mencari identitas. Bacaan kawula muda ini lebih banyak menawarkan gaya hidup dengan budaya serba berselera di seputar tren busana, peroblema gaul, pacaran, shopping, dan acara mengisi waktu luang yang jelas perlahan tapi pasti akan ikut membentuk budaya anak muda yang berorientasi serba fun.

Di kalangan umat Islam, kini mulai marak iklan dan industri jasa yang menawarkan “wisata religius”, “paket spiritualisme dan sufisme”, umroh bersama kyai beken, berdirinya sekolah-sekolah Islam yang mahal berlabel “IT” alias Islam Termahal, cafe khusus muslim, menjamurnya kounter-kounter berlabel Exclusice Moslem Fashion, kegandrungan kelas menengah atas akan Moslem Fashion Show dan berdirinya pusat-pusat perbelanjaan yang memanfaatkan sensibilitas keagamaan untuk keuntungan bisnis.

Marak juga penerbitan majalah Islam (khususnya Muslimah) yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan majalah umum lainnya. Yang ditawarkan pun sama, mode, shopping, soal gaul, dan pacaran yang dianggap pengelolanya “yang Islami”. Slogan yang ditawarkan pun bermacam-macam: Jadilah Muslimah yang gaul dan smart! Jadilah Muslimah yang cerdas, dinamis, dan trendi! Jadilah cewek Muslimah yang proaktif dan ngerti fashion! Kini agama pun telah diperjualbelikan.

Persoalan gaya hidup sudah mulai menjadikan eksistensi seseorang lebih hidup. “Aku bergaya, maka aku ada! Slogan tersebut kini telah mewarnai dunia anak muda yang mereka telah menjadi target dari gaya hidup (lifestyles) glamour. Slogan di atas seolah-olah mengatakan bahwa kalau kamu tidak bergaya maka bersiap-siaplah untuk dianggap “tidak ada”: diremehkan, diabaikan, atau mungkin dilecehkan.

Selamat Menjadi Warga Pesolek

Kiranya alasan di atas menjadi dasar bahwa anak-anak muda sekarang perlu bresolek atau berias diri. Jadilah anak muda kita sebagai warga pesolek (dandy society). Kini, dunia gaya hidup sudah bukan milik artis, model, peragawan (wati) lagi, tetapi sudah ditiru secara kreatif oleh semua orang untuk tampil sehari-hari. Misal pergi ke tempat kerja, sekolah, seminar, arisan, undangan resepsi perkawinan, ceramah agama, atau sekadar jalan-jalan, mejeng, dan ngeceng di mall.

Anak-anak muda kita sudah benar-benar menjadi sasaran empuk bagi para pemodal industri tersebut. Mereka disajikan berbagai menu yang variatif dari ujung rambut sampai ujung kuku kaki. Produk-produk tersebut selalu menawarkan kepada anak-anak muda agar penampilan kulit, wajah, tubuh, dan rambutnya lebih cantik dan indah dipandang. Kehidupan mereka yang awalnya sederhana, kini berubah serba ingn modis tetapi karena melihat produk-produk tersebut. Mereka tidak sadar kalau mereka sedang dijajah oleh dunia pasar yang tidak terlihat di depan mata mereka. Inilah bentuk penjajahan baru.

Tampaknya urusan tampangisme dan wajahisme (lookism or faceism) sudah menjadi persoalan yang cukup serius. Tubuh memang barang yang mudah untuk diperjualbelikan dalam berbagai macam bentuk. Padahal tubuh bentuknya begitu-begitu saja, tidak berubah-ubah. Semua terbuat dari daging. Tetapi karena kreativitas para pemodal, tubuh yang kadang menjijikkan itu bisa menghasilkan uang dan harta berlimpah.

Kini anak muda sedang dalam cengkraman budaya pop, budaya yang mengikis secara perlahan-lahan kepribadian dan moral mereka untuk berorientasi hidup serba fun dan instan. Budaya ngepop selalu menghadirkan mimpi-mimpi yang melangit tetapi jauh dari realitas. Kita perlu sadar dan mencarbut bius budaya pop yang telah meninobobokan identitas kita. Dia adalah bahaya yang akan mengikis habis kepribadian kita. Awas bahaya virus “Budaya Pop”! Sekali terbius akan ketagihan dan tidak bisa keluar.

Sumber :WWW.IRM.OR.ID

Pemimpin Insan Cita "Siap Ber-aksi"  

Diposting oleh Ivan Istyawan

Kepemimpinan adalah sebuah cara yang efektif dalam mengubah ketimpangan sosial yang hari ini terjadi. Berbagai ketimpangan mulai dari lebarnya kesenjangan antara kaya-miskin,pengusuran
yang semakin marak, kapitalismie yang menggurita bahkan calon calon generasi pemimpin yang hedonis, membutuhkan solusi.Oleh karena itu Pimpinan Cabang Malang HMI Korkom UMM menghelat LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) yang berlangsung 3 hari,(14/03).
LDK yang bertujuan menciptakan para pemimpin masa depan Ini telah menghasilkan sosok2 baru yang siap diterjunkan dalam kancah problemantika Ke-Islaman, Ke-Indonesian, Ke-Intelektualan. Kwalitas alumni LDK yang berasal dari Komisariat HMI Se-korkom ini siap diuji dan dinilai dari setiap aksi nyatanya kelak.
Oleh karena sebagai wadah aktualisai diri dan kompetensi dibentuklah Sebuah Komunitas baru(alumni LDK) Bernama "(PIC)Pemimpin Insan Cita". Sebagai Stafnya telah terpilih Ivan (KIP/KO), Didin (Psikologi/Sekretaris), Ma Raden(Hukum/Bendahara) yang siap dan berkomitmen untuk melanjutkan perjuangan mewujudkan Imat Islam yang sebenar-benarnya yaitu Umat Insan Cita melalui terobosan-terobosan perjuangan yang kreatif.
Selamat Atas Lahirnya Insan Pejuang baru dalam wadah "Pemimpin Insan Cita" , Selamat Berjuang kawan hari ini kita telah bersatu sepakat dengan satu kata "PERJUANGAN".Ratusan bahkan Ribuan Permasalahan Umat telah menanti SAATNYA PEMIMPIN INSAN CITA merubah DUNIA.
Salam Perjuangan Penuh Perubahan
GO A HEAD PEMIMPIN INSAN CITA



Ivan Istyawan
KO Pemimpin Insan Cita

Ia, Mereka, Kita dan cahaya  

Diposting oleh Ivan Istyawan




Dirumah ini aku menjadi Tunas
Di rumah ini pula aku belajar keadilan
Di peraduan inipun aku mengenal perjuangan
Bahkan disini pun aku meraba hakekat perjuangan

Di sini pula aku mengenal ketidakadilan
Bahkan disinilah aku melihat ketidakberdayaan
Merasakan keterasingan raga atas jiwa-jiwa yang terkulai
Meski hati tersayat dan menjerit sejadi-jadinya

Tubuhnya lemas, jiwanya terkulai
Raganya melepuh, semangatnya pun me-Rapuh
Ditindas dan tertindas oleh sosok peran
Hanya satu yang ia, mereka dan kita tunggu………….

Namun alienasi tetap berwujud
Panggung sandiwara penghibur yang menggiur

Ingin kurebahkan sumsum yang penat dan rapuh ini
Dalam karpet alam yang meng-hijau nan basah
Ingin bersandar kepala ini atas pundak TERTINGGI
Menunggu, memperjuangkan dan meraih
……..Cahaya

Karya : Ivan Istyawan
Dikaryakan untuk " komunitas Hijau-Hitam dan 3 komponen kehidupan"

MENTARI, Malang Nian Nasibmu !  

Diposting oleh Ivan Istyawan

Di rumah ini aku menjadi tunas
Di rumah ini pula aku belajar keadilan
Di Peraduan ini pun aku mengenal perjuangan

Bahkan disini aku belajar hakekat perjuangan
Namun disini pula aku melihat ketidak adilan
bahkan disini aku menyaksikan ketidak berdayaan
meski hati menjerit, namun penindasan tetap terjadi
Pada Sosok kader, pelopor, pelangsung dan penyempura amanah
Tubuhnya lemas, jiwanya terkulai
Raganya melepuh, semangatnya pun me-Rapuh
Ditindas dan tertindas
Oleh ketidakadilan, bersemayam pada ketidak berdayaan.
Suatu ketika hampir mata ini mencurahkan air mata. Menangis melihat sesosok kader yang selama ini kukenal tegar, membaja, bahkan siap mendada segala resiko demi satu kata "perjuangan". Bersumber sanubari terdalam aku terkagum, terpanah dengan apa yang kusaksikan, dengan penuh harap tangis inipun mengeluarkan sebuah Matra Do'a " Semoga Allah selalu mengobarkan semangatmu wahai kader, wahai MENTARI ".
Namun, sedih kurasa. Bahkan karena karena terlalu sedih hingga air mata pun tak sudi turun dari peraduannya. MENTARI yang Tegar, Membaja, kini rapuh akibat ketidak berdayaannya menghadapi sebuah hegemoni, sangat kuatnya hegemoni itu hingga akupun binggung bagai mana melawan sistem yang tiran ini.
Lalu dimanakah letak ketidak berdayan itu bersembunyi. Dalam hati, hati ku tak pernah mampu untuk mengenali bentuk alienasi, dan hegemoni. Namun ketika ketidak berdayaan itu hadir didepanku, aku pun tersadar bahwa hidup ini penuh rekayasa.
Wahai kader, wahai Mentari : " tabahkan hatimu, kuatkan jiwamu, membajalah engkau dalam ketidak berdayaanmu, Allah tahu bahwa engkau telah mengenal makna perjuangan dan kinilah saatnya Allah menguji seberapa dekat engkau mengenal arti perjuangan beserta konsekuensinya.

Pertanyaan atas Pernik2 Meme  

Diposting oleh Ivan Istyawan

Pernkah anda berntanya-tanya,

mengapa tayangan misteri, kriminal, gosip punya Rating tinggi?
Cafe,resto,fast food menjamur?
koran kuning tetp dibaca orang?
politikus korup dan tukang kipas masih terpilih?
ilmu pengetahuan sepi penggemar?MTV, MC Donald keren Abis?
Industri Iklan Meraksasa?Kapitalis terus bejaya?
Arisan multilevel tak pernah mati?Agama Bertahan ribuan tahun?
Fundamentalisme berkembang subur?
Saksikan jawaban itu semua dalam artikel Rekayasa Meme dalam kehidupan manusia

Rekayasa Meme Atas Kehidupan Kita  

Diposting oleh Ivan Istyawan

Keenan dan Memetika
(Published - Pikiran Rakyat, 26 Nov 2007)


Dua tahun terakhir ini, dunia saya diinvasi diam-diam. Keenan, anak saya, dengan caranya sendiri telah mendominasi semesta kecil keluarga kami. Dengan caranya sendiri, ia memilih menjadi vegetarian sejak usia satu tahun. Dan kini, ia mereformulasi dunia kami dengan cara menjajah satu-satunya televisi di rumah.

Keenan tergila-gila Baby Einstein sejak usianya enam bulan. Umur satu tahun, ia mulai menyukai Elmo. Baru-baru ini ia memuja Barney dan Teletubbies. Secara berangsur, jatah kami menonton teve berkurang, hingga nyaris tidak pernah sama sekali. Saya tidak ingat kapan persisnya efek cuci otak yang dilakukan Keenan mulai menunjukkan hasil. Namun belakangan saya tersadar anak itu telah melakukan uji coba memetika yang efektif.

Singkat kata, memetika adalah ilmu yang mendedah ‘mem’ sebagai bahan baku dasar pembentuk mental, sebagaimana genetika mendedah gen sebagai bahan baku dasar pembentuk kehidupan fisik. Replikasi mental merupakan kemampuan yang memisahkan manusia dengan primata lain. Bahasa, budaya, agama, merupakan produk-produk yang dimungkinkan karena adanya replikasi mem, seperti halnya gen bereplikasi membentuk gugusan sel hingga menjadi tubuh yang mampu bereproduksi dan mempertahankan diri.

Sebagai spesies yang bertarung melawan alam selama jutaan tahun, agenda genetika selalu menggiring kita untuk bereaksi kuat terhadap isu seks, makanan, dan bahaya. Seiring dengan itu, tombol primordial memetika tak pelak adalah: kemarahan, ketakutan, kelaparan, dan nafsu birahi. Menarik untuk direnungkan bahwa yang membuat sebuah informasi berkembang sesungguhnya bukan persoalan ‘penting’ dan ‘tidak penting’, ‘berguna’ dan ‘tidak berguna’, melainkan seberapa banyak tombol primordial kita yang ditembaknya sekaligus.

Para pengiklan tahu bahwa siluet tubuh perempuan bisa membantu penjualan sebuah mesin pompa air, yang sesungguhnya tidak punya hubungan langsung dengan lekuk pinggul dan belahan dada. Mereka juga bisa menyembunyikan bahaya rokok dalam sosok laki-laki gagah yang berarung jeram di alam nan indah. Begitu juga dengan liputan berita yang kerap menciptakan suasana kritis agar pemirsa merasa terdesak dan tercekam. Reporter berwajah santai dan mengatakan ‘semua baik-baik saja’ tidak akan menularkan mem kuat yang menjadikan berita itu punya nilai penting (atau tepatnya nilai jual).

Seberapapun hebat urgensi yang ditawarkan, apa yang kita konsumsi seringkali bukanlah apa yang kita butuhkan. Ini mengingatkan saya pada penelitian Masaru Emoto; bagaimana molekul air rusak ketika didekatkan pada teve yang memutar adegan kekerasan, dan sebaliknya, molekul air membentuk gugus heksagonal saat diputarkan dokumenter alam. Tampilan dunia yang baik-baik saja ternyata memperbaiki tubuh kita sampai level molekular, sementara dunia yang keras dan bahaya—walau rating-nya lebih tinggi—ternyata merusak kita sama besarnya.

Virus pikiran juga bekerja melalui asosiasi dan repetisi. Ketika artis-artis yang bercerai habis-habisan diekspos, orang mulai percaya bahwa artislah jenis manusia yang paling rentan kawin cerai, bahkan memotori rakyat untuk ikut tren sama. Padahal jumlah artis yang bercerai hanyalah noktah tak berarti dibandingkan kasus perceraian yang terjadi di masyarakat umum.

Patriotisme sebagai nilai tidak muncul spontan sejak kita lahir. Kita diprogram melalui repetisi upacara setiap Senin pagi dan penataran Pancasila setiap naik jenjang sekolah. Keinginan beragama tidak muncul begitu saja, seorang anak diprogram mulai dari nol melalui repetisi dan asosiasi tentang adanya hadiah bernama surga, hukuman bernama neraka, dan bos besar yang lebih berkuasa daripada orang tuanya bernama Tuhan.

Memetika sebagai ilmu yang relatif masih muda mampu memberi perspektif segar untuk memilih, memilah, bahkan berhenti sejenak dari bombardir informasi yang menginvasi pikiran kita. Tidak heran jika dalam hampir semua buku memetika yang saya baca, meditasi selalu jadi bahasan penutup, semacam antiviral yang dianjurkan. Bukan karena meditasi adalah bagian dari mem religi tertentu, tapi itulah satu-satunya metode yang membalikkan proses invasi mem: hening, diam, mengamati, tanpa bereaksi.

Hanya melalui percakapan-percakapan insidental saya jadi tahu kalau dua anggota Peter Pan telah keluar, dan telah terjadi kolaborasi dukun-dukun ilmu hitam untuk mencelakakan Bush. Saya kangen menonton Oprah, Discovery Channel, National Geographic, yang ikut dikorbankan akibat blokade teve Keenan. Dan jujur, saya cukup penasaran apakah usaha para dukun itu berhasil atau tidak. Namun saya berterima kasih pada kesempatan yang Keenan beri melalui program memetikanya: sebuah dunia tanpa kekerasan, tanpa akting hiperbolis yang memualkan, tanpa roh halus dan pemburu hantu, tanpa gosip yang tak perlu, tanpa rentetan iklan yang bikin jemu. Dan terkadang membuat saya berpikir, jika kita bisa demikian bersemangat menyerukan perdamaian dunia, mengapa kita tidak sungguh-sungguh ‘menciptakannya’ dari rumah sendiri? Barangkali yang dibutuhkan adalah para pemimpin dunia dengan program memetika yang tepat; yang tertawa bersama Elmo, bernyanyi bersama Barney, dan berpelukan dengan para Teletubbies.


* Buku tentang memetika yang paling mudah dicerna dari Richard Brodie untungnya sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia (judul asli: Virus of The Mind – The New Science of the Meme), sementara buku yang tak terlampau mudah tapi amat sangat patut dibaca salah satunya ditulis oleh Richard Dawkins (The Selfish Gene) dan muridnya, Susan Blackmore (The Meme Machine).

“Mirror, Mirror On The Wall…”  

Diposting oleh Ivan Istyawan

Saya teringat awal tahun ’90-an ketika produk pemutih wajah pertama kali diperkenalkan. Saya baru mulai kuliah saat itu. Saya tak ingat persis yang mana, tapi saya pernah mencoba memakai salah satu produk tersebut, tidak lama-lama karena kurang cocok. Dan dari masa itu hingga sekarang, tak terhitung lagi banyaknya aneka produk pemutih kulit yang ditawarkan berbagai produsen. Cara mereka beriklan pun semakin luar biasa cerdik. Putihnya kulit dihubungkan dengan peluangnya menemukan cinta, dengan putihnya hati nurani, dengan kebahagiaan, hingga perebutan jodoh dalam tujuh hari. Gosong akibat kebanyakan beraktivitas di bawah terik matahari tidak lagi menjadi alasan yang spesial.

Mereka yang kurang putih digambarkan murung, tak mendapat perhatian cukup, selalu dilewatkan oleh sang pujaan, alias tak bahagia. Sementara mereka yang sudah putih atau akhirnya berhasil putih menjadi lebih semringah, diperhatikan orang-orang, dan mendapatkan cinta. Singkat kata, lebih bahagia.

Melihat iklan-iklan itu, saya jadi bertanya-tanya, mengorek-ngorek ingatan saya: pernahkah saya bertemu kasus di mana seseorang ditinggalkan karena kurang putih? Atau pernahkah saya sendiri, ketika harus menentukan pasangan, mendasarkan penilaian saya atas kadar melanin kulit mereka? Jujur, saya belum pernah. Pada akhirnya, yang membuat saya betah bersama dengan seseorang adalah kecocokan, ketersambungan sinapsis, hati, dan jiwa. Sesuatu yang tak bisa diverbalkan atau bahkan divisualisasikan.

Dibutuhkan waktu sepuluhan tahun, dan beberapa kali menjadi duta produk perawatan kulit, hingga akhirnya saya memahami bahwa kata ‘memutihkan’ cenderung menyesatkan (beberapa perusahaan lantas memilih kata ‘mencerahkan’ karena dianggap lebih realistis). Dibutuhkan pengalaman hidup untuk akhirnya mampu menyimpulkan bahwa tampilan fisik—termasuk di dalamnya: warna kulit—bukanlah penentu dalam menghadirkan cinta dan kebahagiaan.

Dibutuhkan pula obrol-obrol dengan para insan periklanan dan perfilman untuk tahu bahwa bintang iklan pemutih kulit memang sudah putih dari sananya. Kalaupun kurang putih, masih ada lampu, bedak, dan sulap digital yang mampu menghadirkan citra apa saja yang dimau sang pengiklan. Dibutuhkan juga buku genetika dan memetika untuk akhirnya memahami mengapa para perempuan tak hentinya berlomba-lomba mengikuti standar cantik masyarakat, dan para pria tak usainya bepacu menjadi yang paling kaya dan sukses, di luar dari batas logika mereka.

Beberapa hari yang lalu, saya terlibat diskusi dengan beberapa teman pria saya. Mereka mempertanyakan, kenapa kok pasangan-pasangan mereka, tak henti-hentinya menyoalkan berat badan, gaya busana, kecantikan kulit, dan sebagainya. Saya berceletuk, karena kompetisi genetika. Mereka yang lebih cantik akan punya peluang lebih besar untuk mendapatkan pasangan. Argumen saya dibalas lagi: tapi kan mereka sudah memperoleh pasangan—yakni, teman-teman saya tadi. Lalu, kok masih terus-terusan repot? Mereka repot berdandan untuk siapa, dan untuk apa? Padahal teman-teman saya tidak merasa memberikan aneka tuntutan atas penampilan mereka. Kalau sudah cinta, ya, cinta saja.

Jika kaum perempuan mendengar pernyataan itu, pastilah mereka bilang bahwa teman-teman saya itu spesies langka, atau mungkin cuma munafik. Tidak ada pria di muka Bumi ini yang tidak menginginkan pasangannya cantik dan menarik. Namun saya tidak terburu-buru melempar komentar senada. Apa yang dibilang teman-teman saya cukup logis, memang. Kalau pasangannya sudah dapat, jadi buat apa lagi repot?

Lalu saya berceletuk lagi, bahwa selama perempuan itu masih subur, dan selama pasangannya pun masih sanggup bereproduksi, kompetisi genetika tidak akan pernah selesai. Baik perempuan, maupun laki-laki, akan selalu berada di bawah bayang-bayang kendali primordial mereka: prokreasi. Agenda genetika hanya satu: kelangsungan hidup dan replikasi diri. Bagi kaum hawa, kebutuhan itu lantas diterjemahkan menjadi kompetisi keamanan dan kepastian bagi dirinya serta keturunannya. Bagi kaum adam, penerjemahannya adalah kompetisi menjadi yang terkuat agar berpeluang besar untuk meneruskan keturunan.

Dalam perkembangan peradaban, tentu konsep ini pun semakin canggih dan berlapis-lapis, walau jika dikupas isinya sama-sama saja. ‘Kuat’ pada zaman batu berarti cerdik dan tangguh hingga mampu menghadapi ancaman predator. ‘Cantik’ pada zaman itu artinya subur hingga mampu beranak banyak. Sekarang, ‘kuat’ berarti aset finansial, ‘cantik’ berarti dada-pinggul besar, berdandan seksi, cerdas, dan seterusnya. Silakan dikupas, dan kita akan menemukan inti yang sama: keamanan dan jaminan prokreasi.

Seumpama jerapah yang berevolusi hingga lehernya panjang, otak manusia pun berkembang sedemikian rupa hingga kita bisa berkomunikasi dengan akurat sampai akhirnya menjadi spesies penguasa. Dilihat dari proporsi tubuh kita, para hewan akan melihat bayi manusia sebagai makhluk aneh dengan otak yang terlampau besar. Dan itulah hadiah evolusi untuk manusia. Sebagai makhluk tak bercakar, tak bertaring, dan kulit yang terlampau halus, manusia berhasil menjadi spesies dominan karena kecanggihan otaknya dan keterampilan jemarinya.

Manusia bukan pula semata-mata budak genetika. Evolusi spesies kita menghadirkan satu elemen lain, yang dikenal dengan istilah: akal budi. Lewat akal budi pulalah lantas tercipta ‘aku’ atau ‘ego’. Binatang tak memiliki ini. ‘Aku’ otomatis menciptakan ‘kamu’, ‘kita’, ‘mereka’, ‘dia’. ‘Aku’ menciptakan keterpisahan. Dan ‘aku’ jugalah yang mendambakan penyatuan. Inilah dualitas mendasar, harga yang harus dibayar untuk menjalankan kehidupan sebagai spesies bernama manusia. ‘Aku’ adalah sarana vital agar kita semua mampu melangsungkan hidup, tapi ‘aku’ juga bisa menjadi sumber segala bencana—jika kita hanyut dalam ilusi yang dihadirkannya. Hadiah evolusi ini menjadi pedang bermata ganda.

Kini, kita melihat dan menuai hasilnya. Di satu sisi, dibungkus dengan konsep cantik seperti ‘asmara’ atau ‘gaya hidup’, manusia bisa mengeruk habis isi bumi dan kecanduan sensasi indrawi. Di sisi lain, dibungkus dengan konsep adiluhung seperti ‘cinta’ dan ‘ilahi’, manusia pun bisa menjadi malaikat pelindung bagi makhluk lain, berpuasa, bahkan hidup selibat. Hewan, yang sepenuhnya dikuasai agenda genetika, tidak akan mengenal konsep berpuasa demi kesucian. Instingnya akan selalu mengatakan ‘makan!’ jika lapar, ‘kawin!” jika musimnya kawin.

Saat mulai riset untuk Supernova “Partikel”, saya menemukan banyak fakta menarik. Kesenjangan DNA antara simpanse dengan gorila ternyata lebih jauh tiga kali lipat dibandingkan dengan kesenjangan DNA antara simpanse dengan manusia. Yang artinya, manusia lebih mirip simpanse, ketimbang simpanse dengan gorila—yang padahal di mata kita sama-sama monyet. Konon, Carolus Linnaeus memisahkan manusia dari bangsa hewan hanya karena takut dimarahi pihak gereja. Pada kenyataannya, kita bertetangga lebih dekat dengan binatang, ketimbang antar binatang itu sendiri. Tidakkah ini lucu?

Saya tergeli-geli ketika tahu fakta itu. Betapa dahsyatnya aparatus bernama ‘aku’ sehingga kita dimampukan untuk mengabaikan fakta dan lantas menyebut diri makhluk mulia. Pernahkah kita renungi, bahwa terlepas dari kemampuan manusia untuk menjadi sungguhan mulia, tapi atas nama kemuliaan, kita sering terlena dalam ilusi kolektif kita sebagai representatif agung yang ditunjuk Tuhan untuk menjadi penguasa langit dan bumi hingga tak sadar bahwa kita pun sedang membunuhnya perlahan?

Inilah yang menjadikan manusia makhluk paradoks yang luar biasa. Kita adalah arena pertempuran antara gen dan mem yang pada dasarnya hanya ingin mereplikasi diri, tapi isi agendanya tak selalu sejalan. Kita adalah konflik yang berjalan di atas dua kaki, dari mulai kita bangun pagi hingga kembali tidur.

Kembali pada obrolan saya dengan teman-teman saya. Mungkin sama seperti Anda, pada titik ini mereka pun garuk-garuk kepala, mengapa pembahasan soal iklan pemutih bisa berkembang liar menjadi urusan taksonomi, genetika, dan memetika? Saya pun berkata, bahwa gelinya saya ketika tahu segitiga DNA manusia-simpanse-gorila sama dengan gelinya saya waktu menonton iklan pemutih wajah itu. Apa yang mereka reklamekan sesungguhnya bukanlah perlombaan menuju bahagia, melainkan perlombaan genetika yang tak ada hubungannya dengan kebahagiaan, putihnya hati, atau cinta sejati. Sebaliknya, kita berpotensi besar untuk berpacu menuju ketidakbahagiaan, karena agenda genetika tak mungkin dipuaskan.

Muncullah pertanyaan kami bersama: apa gunanya tahu tentang perbudakan gen dan mem ini kalau memang tidak bisa dilawan? Saya pun kembali merenung. Mungkinkah itu dilawan? Tidakkah hal tersebut menjadi konflik baru? Mungkinkah, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah menyadarinya? Dan mungkin saja, dari penyadaran itu, kita lebih awas dan hati-hati dalam bertindak, dalam memilih, dalam memilah? Hingga kita bisa lebih bijak dan menahan diri untuk mengonsumsi sesuatu? Hingga pedang bermata ganda ini dapat dipakai dengan konstruktif, bukannya destruktif?

Mengetahui sesuatu tak selalu berujung pada perlawanan. Karena perlawanan tanpa kebijaksanaan akan berujung pada perang reaksioner yang sia-sia. Tak selamanya tombol primordial itu ‘buruk’, bagaimanapun tombol-tombol itu ada untuk pertahanan diri dan merupakan paket dari eksistensi kita. Namun tak selamanya pula tombol-tombol itu harus terus dipenuhi dan diberi reaksi. Dengan laju peradaban dan kapasitas manusia yang kini begitu luar biasa, seringkali kita memang harus lebih banyak menahan diri—bukan atas nama penyangkalan, tapi justru untuk kelangsungan kehidupan bersama, koeksistensi dengan semua makhluk, termasuk spesies kita sendiri.

Dengan demikian, kita lebih bisa memusatkan fokus dan energi kita untuk hal-hal yang esensial. Jika yang dicari putihnya hati, seberapa relevankah lagi zat seperti hydroquinone atau vitamin B3? Jika yang dicari adalah ketenangan batin, seberapa relevankah lagi papan sit-up, ikat pinggang penghancur lemak, pil pelangsing, sumpalan silikon, hidung lebih bangir, dan seterusnya? Dan seperti buta, kita justru melewatkan hal-hal yang membuat diri kita lebih tenteram dan mawas.

Sore itu, di dalam toilet saya bercermin, lalu bertanya pada diri sendiri: akankah saya bertambah bahagia jika kulit saya lebih putih, mulus tanpa cacat cela? Mungkin iya, mungkin tidak. Namun sanggupkah saya mentransendensi apa yang saya lihat di cermin, dan menyadari bahwa bahkan yang namanya kebahagiaan pun tak lekang, bahwa terbebasnya kita dari konflik—meski hanya semenit-dua menit—adalah kedamaian sejati, yang hanya bisa dilakukan bukan dengan menahan melanin atau menghapus keriput, tapi menyadari dan menerima keadaan kita apa adanya sekarang ini, fisik dan juga mental?

Saya rasa, itulah pertanyaan yang sesungguhnya. Dan saya pun tahu, pertanyaan semacam itu tak akan laku jika diiklankan. Namun saya juga yakin, pertanyaan itulah yang menggantungi setiap dari kita, spesies manusia, dan menggetok kepala kita satu hari, pada satu momen yang sempurna.
Taken From : dee-idea.blogspot.com/